“Aku nggak menyalahkan dia sepenuhnya. Aku juga punya banyak kekurangan. Aku masih belajar menjadi ibu yang baik. Aku juga punya masalah mental, aku punya anxiety disorder,” ungkap Angbeen secara terbuka.

Kejujuran Angbeen mengenai kondisi kesehatan mentalnya ini pun menuai simpati dari publik. Ia berharap pengalamannya bisa menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki perjuangan masing-masing, termasuk dalam sebuah pernikahan.

Pasca perceraian, Angbeen memilih untuk lebih fokus pada kebahagiaan dan pengembangan dirinya sendiri. Ia menemukan berbagai cara untuk menenangkan diri dan membangun kembali kepercayaan diri.

“Coping mechanism aku setelah bercerai adalah berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar menikmati waktu sendiri, mengembangkan diri, lebih semangat berkarya, senang masak, dan kadang menyenangkan diri dengan jalan-jalan,” pungkasnya.

Kini, Angbeen Rishi berusaha menjalani hidup dengan lebih ringan, tanpa menutup diri dari pelajaran masa lalu. Baginya, perceraian bukanlah akhir, melainkan proses pendewasaan yang membawanya pada pemahaman baru tentang arti kebahagiaan, tanggung jawab, dan cinta terhadap diri sendiri.