Lebih lanjut, Angbeen menjelaskan bahwa perbedaan prinsip menjadi salah satu alasan utama mengapa rumah tangganya dengan Adly tidak lagi bisa dipertahankan. Ia memandang pernikahan sebagai penyatuan dua individu dengan latar belakang, pemikiran, dan nilai hidup yang tidak selalu sama.

“Rumah tangga itu kompleks. Dua kepala manusia bersatu, masing-masing punya pikiran dan prinsip sendiri. Kalau sudah tidak bisa berjalan searah, ya tidak bisa dipaksakan,” tuturnya.

Angbeen juga menegaskan bahwa rasa tidak sejalan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Sebaliknya, perasaan itu berkembang seiring waktu dan melalui berbagai proses yang panjang.

“Aku nggak bisa menyebutkan tahun pastinya, tapi sepanjang perjalanan itu akhirnya kami menyadari bahwa kami memang sudah tidak bisa bersama karena perbedaan prinsip,” jelasnya.

Sebagai seorang ibu, Angbeen mengaku bahwa perceraian ini memberikan banyak pelajaran berharga dalam hidupnya. Ia menyebut pengalaman tersebut membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, terutama dalam memaknai peran sebagai istri dan ibu.

“Pelajarannya banyak banget. Dari sini aku belajar bahwa menjadi istri dan ibu yang baik itu tidak sederhana. Banyak bekal yang harus dipunya, secara mental, emosional, dan kesiapan diri,” ujarnya dengan jujur.

Menariknya, Angbeen juga tidak sepenuhnya menyalahkan Adly Fairuz atas kegagalan rumah tangga mereka. Ia mengakui bahwa dirinya pun memiliki banyak kekurangan dan masih dalam proses belajar.