Perasaan tersebut muncul bukan karena ingin kembali ke masa lalu, melainkan sebagai bentuk kekhawatiran alami seorang ibu terhadap masa depan anak-anaknya.
Meski demikian, seiring berjalannya waktu Tengku Dewi mulai belajar menerima keadaan. Ia mencoba berdamai dengan dirinya sendiri dan melihat perjalanan hidup dari sudut pandang yang lebih ikhlas.
Ia menyadari bahwa manusia hanya bisa merencanakan, sementara hasil akhir tetap berada di tangan Tuhan.
“Seiring berjalannya waktu, aku merasa memang hidup ini kita bisa berencana. Tapi aku percaya kalau misalnya enggak sesuai alurnya, pasti Tuhan punya jawaban yang lebih baik buat aku,” ucapnya.
Keyakinan tersebut perlahan membantunya bangkit dan melangkah ke depan, meski luka batin belum sepenuhnya hilang.
Saat ini, Tengku Dewi memilih untuk lebih fokus pada perannya sebagai ibu dan membangun masa depan yang lebih baik untuk dirinya dan anak-anaknya. Ia berusaha menghadirkan lingkungan yang penuh cinta, meski dalam kondisi keluarga yang berbeda dari sebelumnya.
Ia juga berharap, ke depan anak-anaknya tetap bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya, meskipun tidak lagi berada dalam satu rumah tangga yang utuh.
“Aku cuma berharap ke depan semuanya membawa kebaikan, buat aku dan anak-anak,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan