Perubahan drastis tersebut sempat membuatnya terpukul dan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan realitas baru yang harus ia jalani.
Wanita berusia 38 tahun ini juga menyoroti bagaimana hidup kerap berjalan jauh di luar rencana manusia. Ia merasa alur cerita hidupnya berubah drastis dalam waktu yang relatif singkat.
“Sekarang aja tiba-tiba dia sudah punya pasangan baru, ke podcast juga. Kalau dipikir kayak gila ya hidup ini, kok bisa alur ceritanya benar-benar enggak bisa kita prediksi,” ungkapnya jujur.
Pengalaman tersebut membuat Tengku Dewi semakin menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan ekspektasi, bahkan ketika seseorang merasa telah melakukan yang terbaik.
Meski masih ada perasaan mengganjal, Tengku Dewi menegaskan bahwa hal tersebut bukan karena penyesalan atas keputusan bercerai. Menurutnya, rasa mengganjal itu lebih banyak berkaitan dengan kondisi dan perasaan anak-anaknya.
“Yang ngeganjel itu bukan penyesalan aku cerai sama dia, tapi lebih ke perasaan anak-anak,” kata Tengku Dewi.
Sebagai seorang ibu, ia memiliki harapan besar agar anak-anaknya bisa tumbuh dengan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua. Namun kenyataan yang harus ia hadapi kini berbeda dari harapan tersebut.
“Aku maunya anak itu benar-benar mendapatkan kasih sayang dari dua orang tua yang lengkap,” ujarnya.
Tengku Dewi mengakui, sebagai ibu ia kerap mempertanyakan keputusannya sendiri. Perasaan bersalah dan sedih kadang muncul ketika ia membayangkan anak-anaknya harus tumbuh tanpa kehadiran orang tua yang lengkap setiap hari.
“Kadang aku suka pertanyakan, ‘apakah gue salah ngambil keputusan ini? Akhirnya anak-anak gue cuma dapat kasih sayang dari ibunya aja,’” tuturnya lirih.

Tinggalkan Balasan