Dahlia menjelaskan bahwa saat ini anak-anaknya telah memiliki lingkungan yang nyaman dan fasilitas yang memadai di rumah sang ayah. Ia tak ingin perpisahan orang tua berdampak buruk pada kualitas hidup mereka.
“Sekarang mereka punya semua fasilitas yang mereka butuhin di rumah itu, dan aku enggak mau kalau misalkan mereka berpikir, ‘Gila ya, nyokap bokap gue udah cerai terus hidup gue jadi turun,’” tuturnya.
Menurut Dahlia, anak-anak tidak seharusnya menjadi korban dari perpisahan orang tua. Ia ingin memastikan bahwa kebutuhan fisik, emosional, dan psikologis mereka tetap terpenuhi.
Meski telah mengambil keputusan tersebut, Dahlia menegaskan bahwa berpisah dari anak-anak bukanlah hal yang bisa ia lakukan dengan mudah. Selama ini, ia mengaku mengurus ketiga buah hatinya seorang diri sejak mereka lahir.
“Sebenarnya enggak bisa pisah, karena dari lahir aku ngurusin sendiri semua,” ungkapnya.
Ikatan emosional antara Dahlia dan anak-anaknya terbangun sangat kuat. Oleh karena itu, keputusan untuk tidak tinggal bersama mereka menjadi luka yang hingga kini masih sulit ia sembuhkan.
Dahlia menyebut ada satu hal yang sampai sekarang belum bisa ia ikhlaskan sepenuhnya, yakni kehilangan momen kebersamaan dengan anak-anak selama 24 jam penuh.
“Hal yang paling tidak ikhlas sampai sekarang cuma itu. Karena aku enggak bisa sama mereka 24 jam lagi. Aku harus melakukan itu, because I love them too much,” katanya dengan suara bergetar.
Baginya, cinta kepada anak-anak justru menjadi alasan utama mengapa ia memilih mundur sementara dan memberi ruang agar mereka tetap tumbuh dalam kondisi terbaik.
Rasa kehilangan tersebut semakin terasa pada malam hari. Dahlia mengungkapkan bahwa waktu menjelang tidur menjadi momen paling berat yang harus ia lalui seorang diri.

Tinggalkan Balasan