Dalam film ini, Zee mendapatkan pelatihan langsung dari Max Metino, petarung sekaligus pelatih MMA yang juga turut berperan sebagai salah satu karakter di film tersebut. Max menilai Zee memiliki modal dasar yang cukup baik untuk mempelajari teknik bertarung.
“Zee itu cepat menangkap instruksi. Dia punya dasar dance, jadi koordinasi tubuhnya bagus. Badannya juga atletis dan punya power,” ujar Max.
Menurut Max, teknik yang dipelajari Zee tidak hanya sebatas koreografi film biasa. Pendekatan yang digunakan merujuk pada teknik pertarungan Mixed Martial Arts (MMA) yang realistis, mulai dari striking hingga teknik kuncian dasar. Hal ini dilakukan agar adegan laga dalam film terasa lebih autentik dan tidak berlebihan.
“Yang menarik, teknik yang dilakukan Angel itu bukan sekadar koreo. Ada unsur teknik nyata yang biasa dipakai petarung MMA. Jadi ketika penonton melihatnya, ada rasa real yang berbeda,” jelas Max.
Pendekatan realistis ini juga menjadi ciri khas film tersebut. Sutradara Daniel Tito Pakpahan disebut ingin menghadirkan aksi yang membumi dan tidak terlalu dramatis secara berlebihan. Ia ingin konflik fisik yang terjadi di layar terasa dekat dengan kenyataan, sekaligus tetap mendukung alur cerita yang sarat isu sosial.
Selain adegan laga, film ini juga mengangkat tema yang relevan dengan kehidupan masyarakat, seperti fenomena judi online, kekerasan jalanan, dan dinamika keluarga dalam lingkaran premanisme. Karakter Angel digambarkan berada di persimpangan antara loyalitas keluarga dan keinginan menentukan jalan hidupnya sendiri.
Zee mengaku tertarik pada kedalaman cerita tersebut. Menurutnya, film ini bukan hanya soal aksi, tetapi juga perjalanan emosional seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan keras dan penuh tekanan.
“Angel itu bukan cuma berantem. Dia punya konflik batin, punya luka, dan harus menghadapi pilihan-pilihan sulit,” katanya.

Tinggalkan Balasan