Ia pun menambahkan bahwa masa depan tidak datang begitu saja tanpa usaha.
“Masa depan itu nggak gratis, mereka harus merebut masa depan mereka sendiri,” lanjutnya tegas.
Terkait polemik yang menimpa Chiki, Ikang tidak menampik bahwa ada perasaan tersendiri sebagai seorang ayah. Namun, ia memilih untuk tidak larut dalam emosi dan lebih melihatnya sebagai bagian dari dinamika kehidupan.
“Bukan sedih, saya tersinggung, tapi saya pikir ya itu urusan dari lu punya gawean, ya suka-suka lu lah. Lu mau tidak bijaksana, itu urusan lu,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap tegas sekaligus realistis. Ia menyadari bahwa dalam kehidupan profesional, setiap keputusan memiliki pertimbangan masing-masing. Namun yang terpenting baginya adalah bagaimana sang anak merespons situasi tersebut.
Alih-alih terpukul, Chiki justru menunjukkan kedewasaan berpikir yang membuat Ikang semakin bangga. Ia mengungkapkan bahwa putrinya memaknai kejadian itu sebagai bagian dari ketetapan Tuhan.
“Tapi yang jelas satu hal yang aku dapatkan dari anakku adalah ‘Ayah, Chiki bisa naik haji itu semuanya atas izin Allah’, udah that’s mean everything,” jelas Ikang.
Bagi Ikang, kalimat tersebut bukan sekadar penghiburan, melainkan cerminan keimanan dan keteguhan hati. Ia melihat bahwa putrinya mampu menempatkan persoalan dalam perspektif spiritual yang lebih luas.
Ikang menilai bahwa keyakinan kepada takdir adalah bentuk kedewasaan yang sesungguhnya. Tidak semua rencana manusia berjalan sesuai harapan, dan terkadang kegagalan justru menjadi perlindungan dari sesuatu yang lebih besar.
“Berarti yang dilakukan sebelumnya itu tidak diizinkan, tidak apa, tidak baik nantinya loh gitu. Menguatkannya dengan percaya sama dia aja,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan