HYROX sendiri dikenal sebagai kompetisi kebugaran internasional yang mengombinasikan lari dan latihan fungsional, yang belakangan semakin populer. Jennifer melihat ketertarikan Irfan pada HYROX sebagai peluang untuk tetap berkarier di dunia olahraga, sekaligus menjaga kebugaran tubuh.
“Perubahan ini bukan hal yang memberatkan. Justru jadi kesempatan buat atur ulang prioritas dan maksimalkan potensi di bidang yang baru,” jelas Jennifer.
Lebih jauh, Jennifer menekankan bahwa ekonomi keluarga bukan satu-satunya aspek yang menjadi pertimbangan. Ia menyebut keseimbangan hidup, kebahagiaan, dan kesehatan mental keluarga sebagai faktor yang jauh lebih penting.
“Ekonomi keluarga itu penting, tapi yang lebih penting lagi adalah keseimbangan hidup dan kebahagiaan anak-anak serta kita sebagai orang tua,” ungkapnya.
Bagi Jennifer, perubahan ritme kerja Irfan justru memberikan ruang lebih besar untuk kebersamaan keluarga, sesuatu yang sebelumnya cukup sulit didapat ketika Irfan masih aktif bermain sepak bola dengan jadwal padat.
Jennifer juga bercerita bahwa ketiga anak mereka Kenji, Kiyomi, dan Kiyoji kini mulai aktif mengikuti aktivitas olahraga kedua orang tuanya. Hal tersebut menjadi kebiasaan positif yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga mempererat hubungan keluarga.
“Anak-anak ikut lari karena melihat kita aktif. Jadi ini nggak cuma olahraga, tapi juga quality time yang menyenangkan,” ujar Jennifer.

Tinggalkan Balasan