Acha kini berupaya menerapkan pola asuh yang lebih terbuka dan suportif. Ia ingin anaknya belajar mengambil keputusan sendiri sesuai dengan kapasitas usia, sekaligus memahami konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.
Menurutnya, anak-anak perlu diberikan ruang untuk bereksplorasi, berpendapat, bahkan melakukan kesalahan kecil agar mental mereka terbentuk secara alami. Ia percaya bahwa proses tersebut jauh lebih efektif dibandingkan kontrol berlebihan dari orang tua.
Acha juga menilai bahwa pembelajaran hidup tidak selalu bisa diperoleh dari pendidikan formal di sekolah. Interaksi sosial, pengalaman sehari-hari, serta dinamika pertemanan justru menjadi ruang belajar yang paling nyata bagi anak-anak.
“Anak perlu belajar strategi hidup dari pengalaman, bukan hanya teori,” kata Acha.
Dalam hal pertemanan, Acha mengajarkan anaknya untuk tidak memaksakan hubungan yang tidak sehat. Ia menekankan pentingnya menghargai penolakan, mengenali batas diri, dan memahami bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan.
Pandangan ini, menurut Acha, berangkat dari kesadaran bahwa setiap individu memiliki identitas, kebutuhan emosional, dan pilihan hidup masing-masing. Ia percaya orang tua seharusnya berperan sebagai pendamping, bukan pengendali penuh atas kehidupan anak.
Pemikiran tersebut juga ia refleksikan dalam dunia akting. Saat membintangi film Titip Bunda di Surgamu, Acha memerankan karakter Alya, anak pertama yang tumbuh dalam keluarga dengan minim komunikasi emosional.
Karakter tersebut menggambarkan bagaimana kurangnya ruang untuk berbicara dan didengar dapat meninggalkan luka mendalam yang terbawa hingga dewasa.
“Tidak punya suara dalam keluarga bisa meninggalkan luka yang sangat dalam,” ungkap Acha.

Tinggalkan Balasan